Friday, February 3, 2012

Adi Muara



Assalamualaikum wb...

Saya pernah bercerita mengenai perjalanan puisi saya. Bermula dari sifar tanpa mengetahui apa- apa mengenai penulisan sajak, saya belajar sendiri sedikit demi sedikit.

Mula2 berkenalan secara tak sengaja dengan dunia pusia melalui bengkel anjuran DBP, saya kemudian bertatih sendiri melalui pembacaan.

Saya beli Majalah Dewan Sastera keluaran lepas dengan harga yang murah. Saya suka majalah ni sebab dia ada ruangan ulasan sajak. Saya teliti kritikan yang dibuat terhadap sajak- sajak yang disiarkan.

Saya juga membeli buku- buku antologi puisi hasil tulisan pelbagai golongan penyair dari yang tersohor seperti SN A Samad Said sehingga ke penulis kontemporari.

Buku2 koleksi puisi tersebut saya kumpul dari Kedai Buku dan jualan gudang Dawama. Banyak yang saya belum sempat baca, tapi ada juga buku yang berkali- kali saya baca.

Buku sajak yang berulang- ulang kali saya baca semestinya yang ditulis oleh Pak Samad. Saya suka sajak2 nya yang bagai mengusik dan mencabar saya untuk memahaminya.

Tetapi, ada sebuah buku puisi ni, yang saya akan kembali kepadanya setiap kali saya nak menyegarkan kembali minda puisi saya selepas saya berhenti sejenak dari ruang puisi.

Buku antologi puisi Citra terbitan DBP 2006 hasil tulisan penyair Adi Muara ni merupakan di antara buku- buku puisi awal yang saya miliki.

Saya suka baca antologi ni sebab bahasa yang digunakan adalah bahasa yang mudah saya fahami. Namun pada masa yang sama, ia diolah dengan menarik untuk masih mampu mencabar daya faham saya untuk mencari makna di sebalik sajak2 tersebut.

Dan hari ini saya menyelak lembaran Citra semula untuk menghirup indahnya bahasa ibunda kita.

Kembara I
(Antologi sajak Citra, Adi Muara, Terbitan DBP, 2006)

Di pundak langit
ada kembara
menari sayang
lagu biru
di sudut awan
ada seniman
menulis sayu
cerita ungu
dan kelabu
di pinggir danau
perawan menangis sendu


No comments:

Post a Comment